JAKARTA – Karya kreatif dan potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Aceh mendapat sorotan dalam pembukaan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Ketua Dekranas Aceh, Marlina Usman, hadir langsung dalam agenda yang digelar Bank Indonesia (BI) tersebut. Ia datang bersama Ketua Bhayangkari Aceh, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh.
Kehadiran para pemangku kepentingan Aceh itu menegaskan dukungan terhadap penguatan UMKM sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi produk unggulan daerah untuk menembus pasar nasional dan internasional.
KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Pada penyelenggaraan tahun ini, Aceh mendapat posisi sebagai wilayah tematik dengan semangat “Beudaya Meusare-Sare” yang bermakna berdaya bersama-sama.
Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pemilihan tema tersebut tidak terlepas dari kebutuhan untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mendukung pelaku UMKM.
“Kita mengangkat tema besar penguatan sinergi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing. Tema yang kita ambil adalah Beudaya Meusare-Sare, jadi ini adalah sinergi di antara kita untuk mendukung para UMKM,” ujar Destry.
Menurut Destry, Aceh dipilih sebagai wilayah tematik karena memiliki kekayaan budaya serta kreativitas yang menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi daerah. Momentum KKI 2026 diharapkan turut mendorong kebangkitan usaha lokal dan memperluas peluang pasar bagi produk-produk Aceh.
Marlina Usman menyambut positif kepercayaan Bank Indonesia yang menjadikan Aceh sebagai bagian penting dalam gelaran KKI 2026. Ia menilai ajang tersebut bukan sekadar pameran, tetapi juga kesempatan bagi perajin dan pelaku usaha Aceh memperkenalkan kualitas produk mereka kepada pasar yang lebih luas.
“Ini menjadi momentum besar bagi UMKM Aceh untuk bangkit dan menunjukkan potensi terbaiknya. Lewat semangat Beudaya Meusare-Sare, kita membuktikan bahwa dengan bergotong royong dan bersinergi, produk-produk lokal Aceh mulai dari wastra, kriya, hingga kuliner mampu bersaing dan memiliki nilai jual yang tinggi,” kata Marlina.
Ia mendorong para perajin dan pelaku UMKM Aceh tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Inovasi, konsistensi kualitas, penguatan merek, dan pemanfaatan teknologi digital dinilai penting agar produk lokal semakin mudah menjangkau konsumen.
Marlina juga mengajak pelaku UMKM memanfaatkan ekosistem digital sebagai pintu masuk menuju pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga terkait, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci agar UMKM Aceh semakin kuat. Semangat “Beudaya Meusare-Sare” diharapkan tidak berhenti di panggung KKI 2026, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membawa produk Aceh naik kelas.
Dengan kekayaan wastra, kriya, dan kuliner yang dimiliki, Aceh memiliki peluang besar untuk memperkuat identitas produk daerah sekaligus meningkatkan daya saing UMKM di pasar nasional dan global.
