Sekda Banda Aceh Buka Workshop Pendidikan Inklusif, Tegaskan Sekolah Harus Bebas Perundungan

BANDA ACEH — Komitmen memperkuat layanan pendidikan inklusif dan ramah anak kembali ditegaskan di Ibu Kota Provinsi Aceh. Mewakili Bunda PAUD Kota Banda Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banda Aceh, Ir. Jalaluddin, S.T., M.T., secara resmi membuka acara Pembukaan Workshop Identifikasi dan Pendampingan Peserta Didik dalam Pendidikan Inklusif bagi Guru Sekolah Dasar se-Kota Banda Aceh secara khidmat di Balee Kerukon Balaikota pada Senin, (05/10/2026) dan dihadiri oleh puluhan tenaga pendidik SD dari seluruh wilayah Kota Banda Aceh.

Dalam amanat yang disampaikan oleh Sekda, Bunda PAUD menekankan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar formalitas menerima peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah reguler, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk membangun lingkungan belajar yang menghargai keberagaman, menjamin rasa aman, serta memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa tersisih.

BACA JUGA  Pemko Banda Aceh Usulkan 478 Tenaga Non ASN Jadi PPPK Paruh Waktu

Proses transisi dari PAUD ke Sekolah Dasar juga disoroti agar berlangsung secara menyenangkan, ramah anak, dan bebas dari tekanan. Selain itu, ditegaskan pula seruan bersama untuk menolak dan menghentikan segala bentuk perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan empat langkah nyata yang wajib dijalankan oleh seluruh jajaran pendidik:

1. Jadikan Sekolah sebagai Zona Safe Haven (Aman dan Nyaman): Pastikan anak merasa dilindungi, didengar, dan dihargai.

2. ⁠Tanamkan Empati dan Toleransi sejak Dini: Ajarkan anak-anak bahwa perbedaan fisik, kemampuan, maupun karakter adalah hal wajar, dan ajarkan mereka untuk saling merangkul, bukan memukul; saling membela, bukan mencela.

BACA JUGA  Wali Kota Sampaikan Raqan Perubahan APBK 2026 dalam Rapat Paripurna DPRK

3. ⁠Tingkatkan Kepekaan dan Respons Cepat Guru: Jangan abaikan sekecil apa pun bentuk ejekan atau pengucilan di kelas maupun luar kelas. Tindak tegas dengan pendekatan edukatif sebelum berdampak lebih jauh.

4. ⁠Perkuat Kemitraan dengan Orang Tua: Ciptakan komunikasi dua arah yang akrab antara guru dan orang tua untuk mendeteksi perubahan perilaku atau masalah sosial yang dihadapi anak sejak awal.

Melalui pelatihan strategis ini, para guru SD di Kota Banda Aceh dibekali pengetahuan, ketajaman analisis, dan kepekaan nurani agar mampu menjalankan peran utamanya bukan hanya menuntaskan kurikulum, melainkan menjadi pembentuk jiwa, pembina karakter, dan penanam nilai kebaikan bagi seluruh anak bangsa.

BACA JUGA  DPRK Banda Aceh Gelar Paripurna Jawaban LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *