Banda Aceh — Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama United Nations Development Programme (UNDP) membahas penguatan kompetensi mahasiswa melalui keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, termasuk green skills, keterampilan digital, serta pemahaman tentang kesetaraan gender dan inklusi sosial.
Pembahasan itu berlangsung dalam lokakarya kolaborasi FUF UIN Ar-Raniry dan UNDP melalui program Skill Our Future (SOF) di Ruang Theater Gedung LPPM UIN Ar-Raniry, Jumat (2/10/2026).
Lokakarya bertema “Keterlibatan Universitas dalam Program Skill Our Future Mendukung Kesiapan Kerja Pemuda: Keterampilan Hijau (Green Skills) dan Aksi Iklim yang Responsif Gender” tersebut membahas kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja sekaligus peluang keterlibatan pemuda dalam agenda pembangunan berkelanjutan.
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Prof Dr Salman Abdul Muthalib Lc MA mengatakan penguatan kompetensi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa dan lulusan menghadapi dunia kerja.
Menurut Salman, perguruan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik. Mahasiswa juga membutuhkan kompetensi terukur dan keterampilan profesional yang dapat dibuktikan.
“Pendidikan tinggi tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang terukur, keterampilan profesional, serta kemampuan untuk berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat,” kata Salman.
Dia berharap9 kolaborasi dengan UNDP tidak berhenti pada kegiatan lokakarya, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, lulusan, dosen, dan masyarakat.
Senior Gender and Social Inclusion Specialist NDC 2.0 sekaligus Konsultan UNDP Indonesia untuk Program SOF, Zubaidah Djohar, mengatakan pencapaian target iklim Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknis dan sosial.

Menurut dia, Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen kebijakan. Target tersebut membutuhkan tenaga terampil yang mampu menerjemahkannya menjadi aksi nyata.
“ENDC tidak akan berjalan hanya karena targetnya sudah dicatat dan disusun. ENDC berjalan ketika keterampilan yang dipelajari digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata perubahan iklim di Indonesia,” ujar Zubaidah.
Zubaidah mengatakan kebutuhan keterampilan tersebut terbuka bagi pemuda dari berbagai disiplin ilmu. Pelaksanaan agenda iklim Indonesia mencakup sejumlah sektor, antara lain energi, hutan dan lahan, pertanian, limbah, industri, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Karena itu, menurut dia, perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan antara keterampilan yang diperoleh mahasiswa dengan kebutuhan dunia kerja, termasuk pekerjaan yang berkaitan dengan ekonomi hijau.
