“..institusi, dan membuktikan bahwa putra-putra Aceh dapat memberikan pengabdian terbaik di mana pun mereka ditempatkan,” ucapnya dengan suara parau, menahan haru. Masya Allah.
Kalimat itu menyadarkan saya tentang makna sebuah amanah.
Kita tidak ingin kebanggaan hari ini hanya menjadi cerita dalam pertemuan keluarga. Kita ingin kebanggaan itu tumbuh menjadi kepercayaan publik melalui tindakan nyata.
Sebab, jabatan dapat membuat seseorang dikenal, tetapi integritaslah yang membuatnya dihormati. Kedudukan dapat membuka pintu kekuasaan, tetapi keteladananlah yang membuka pintu hati masyarakat.
Dukungan rakyat Aceh pun hendaknya dimaknai sebagai dukungan yang dewasa: memberikan kepercayaan, mendoakan keberhasilan, sekaligus menjaga ruang bagi kritik yang objektif. Kecintaan kepada seseorang tidak berarti membenarkan semua tindakannya. Justru kecintaan yang tulus mendorong kita untuk saling mengingatkan agar amanah tidak menyimpang dari tujuan.
Pesan Maulid: Keteladanan Lebih Bermakna daripada Orasi
Pada penghujung acara, ceramah Maulid disampaikan oleh Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. H. Misran Fuadi, S.Ag., M.A.P. Beliau mengajak kaum wareh Ulee Balang Aceh agar memberikan contoh terbaik dalam kehidupan bermasyarakat, sebagaimana keteladanan Rasulullah SAW. Pesan ini patut menjadi renungan kita bersama.
Dalam kehidupan sosial dan politik, orang sering lebih mudah berbicara tentang kebaikan daripada melaksanakannya. Tidak sedikit yang fasih berpidato tentang persaudaraan, tetapi tindakannya justru memelihara perpecahan. Ada yang lantang menyerukan keadilan, tetapi lupa berlaku adil kepada orang-orang terdekatnya. Ada pula yang berbicara tentang kehormatan, tetapi belum mampu menjaga kehormatan dalam perilaku sehari-hari.
“Padahal, masyarakat tidak hanya membutuhkan kata-kata yang indah. Masyarakat membutuhkan bukti, keteladanan, dan perilaku yang dapat dipercaya,” ujar Ustaz Misran.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak merupakan bagian penting dari misi kenabian. Karena itu, memperingati Maulid seharusnya mendorong kita menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan nyata: berkata benar, menepati janji, berlaku adil, menghormati sesama, menyayangi yang lemah, dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Seribu kata tentang kebaikan tidak akan mengalahkan satu tindakan nyata yang membawa kebaikan. Seindah apa pun nasihat, nilainya akan kehilangan makna apabila tidak tercermin dalam perilaku.
Bagi keluarga besar KUB, pesan ini sangat relevan. Kita memiliki tanggung jawab untuk memperlihatkan bahwa kebesaran sejarah dapat berjalan seiring dengan kerendahan hati, bahwa kehormatan keluarga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, dan bahwa nilai-nilai adat dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih bermartabat.
Kekompakan adalah Modal Sosial, Keteladanan adalah Kekuatan Moral
Sebagai ilmuwan politik, saya memandang kekompakan, kepercayaan, dan solidaritas sebagai modal sosial yang penting bagi keberlangsungan sebuah organisasi. Modal sosial tidak lahir hanya karena kesamaan keturunan atau identitas, tetapi tumbuh melalui hubungan yang saling percaya, komitmen bersama, dan kesediaan untuk menghargai perbedaan.
Karena itu, KUB harus terus merawat kebersamaan, menjauhi ego sektoral, serta menghindari persaingan yang hanya bertujuan mencari pengakuan pribadi.
Jangan berlomba menjadi orang pertama; berlombalah menjadi orang yang paling tulus menjaga persaudaraan. Jangan sibuk mencari penghormatan; bangunlah sikap yang membuat kita pantas dihormati.
Kita akan kuat apabila berhenti saling melemahkan. Kita akan bermartabat apabila mampu menghargai satu sama lain. Dan kita akan semakin berarti apabila kebersamaan tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi hadir dalam tindakan nyata bagi agama, adat, pendidikan, dan kemajuan Aceh.
Pada akhirnya, Maulid KUB DPP Aceh mengajarkan kepada kita tiga hal penting: bersyukurlah atas kepercayaan, jagalah amanah dengan integritas, dan buktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui keteladanan.
Sebab, kebesaran bukanlah tentang siapa yang paling tinggi kedudukannya, melainkan siapa yang paling besar tanggung jawab dan manfaatnya bagi sesama.
Semoga Allah SWT senantiasa memperkuat persaudaraan keluarga besar KUB, memberkahi para pemegang amanah, dan membimbing kita semua agar mampu menjaga kehormatan keluarga, menjunjung nilai-nilai Islam dan adat Aceh, serta memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Wallahu a’lam.
Salam Takzim dan Salam Persaudaraan,
Teuku Muhammad Jamil
Ilmuwan Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK)
Wakil Ketua Dewan Pembina Keluarga Ulee Balang (KUB) DPP Aceh
