BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banda Aceh, Jalaluddin menegaskan pentingnya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan menanamkan edukasi kebencanaan sejak usia dini. Melalui program Tagana Masuk Sekolah, sebanyak 12 sekolah di Kota Banda Aceh menjadi sasaran sosialisasi untuk membekali siswa dan tenaga pendidik dengan pengetahuan menghadapi situasi darurat.
Program yang berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 ini menjadi salah satu langkah Pemko Banda Aceh dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan. Para peserta didik diperkenalkan dengan berbagai potensi bencana, langkah penyelamatan diri, hingga prosedur evakuasi yang aman.
Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh, Jalaluddin, menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan perlu diberikan sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah. Menurutnya, pemahaman mengenai bencana menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk melindungi diri dan lingkungan ketika menghadapi keadaan darurat.
Hal tersebut disampaikan Jalaluddin saat membuka kegiatan Tagana Masuk Sekolah di SMP Negeri 6 Kota Banda Aceh, Senin (12/10/2026).
“Ini saya pikir sangat penting karena kota kita juga menjadi kota tangguh bencana, generasi anak-anak inilah yang akan melanjutkan estafet kemimpinan kota nantinya, atau yang tinggal di kota ini. Maka dari kecil, kita harus berikan pemahaman dan edukasi kepada mereka, sehingga mereka paham apa sih sebenarnya bencana itu dan bagaimana sebelum terjadi, sedang terjadi serta setelah terjadi,” kata Jalal saat membuka Tagana Masuk Sekolah di SMP Negeri 6 Kota Banda Aceh, Senin (12/10/2026).
Pengalaman Tsunami Jadi Pengingat Pentingnya Kesiapsiagaan
Banda Aceh memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana besar, khususnya tsunami yang pernah melanda wilayah tersebut. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat harus terus diperkuat agar risiko korban jiwa dapat diminimalkan.
Jalaluddin menjelaskan, masyarakat perlu memahami tanda-tanda bahaya, cara menyelamatkan diri, serta jalur evakuasi ketika bencana terjadi. Pengetahuan tersebut tidak cukup hanya disampaikan saat keadaan darurat, tetapi harus ditanamkan secara berkelanjutan melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
“Pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Edukasi kebencanaan ini tidak boleh berhenti, kapan pun dan sampai kapan pun harus terus disampaikan, baik di rumah, di sekolah, maupun di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Jalaluddin, program Tagana Masuk Sekolah merupakan salah satu bentuk nyata upaya Pemko Banda Aceh dalam memperluas pemahaman kebencanaan kepada generasi muda.
Selain sosialisasi di sekolah, pemerintah juga merencanakan kegiatan simulasi atau tsunami drill sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
“Ini salah satu bahagian terkecil, nanti juga ada kita lakukan tsunami drill dan sebagainya. Ini terus kita lakukan tidak boleh berhenti,” kata Jalal.
12 Sekolah di Banda Aceh Ikuti Program Tagana Masuk Sekolah
Perwakilan Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Banda Aceh, Fakhrudin, menjelaskan bahwa pelaksanaan Tagana Masuk Sekolah tahun 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 12 hingga 14 Oktober.
Kegiatan tersebut menjangkau 12 sekolah yang tersebar di wilayah Kota Banda Aceh, terdiri atas delapan sekolah menengah pertama (SMP) dan empat sekolah dasar (SD).
Sekolah yang menjadi sasaran kegiatan meliputi SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 4, SMP Negeri 6, SMP Negeri 8, SMP Negeri 9, SMP Alwildan, SD Negeri 5, SD Negeri 25, SD Negeri 50, SD Negeri 54, dan SD Negeri 69 Kota Banda Aceh.
Fakhrudin berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman siswa, guru, serta seluruh warga sekolah mengenai potensi bencana dan langkah-langkah penanganannya.
“Kita harapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman tentang jenis dan potensi bencana di lingkungan sekitar. Pengetahuan dasar mengenai upaya mitigasi dan kesiap-siagaan bencana, memahami langkah penyelamatan diri serta prosedur evakuasi yang aman, dan menumbuhkan sikap tanggap, peduli, dan gotong royong dalam menghadapi situasi darurat, dan membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah sejak usia ini,” tutupnya. (Rid)
Bangun Budaya Sadar Bencana untuk Banda Aceh yang Lebih Tangguh
Melalui program Tagana Masuk Sekolah, Pemko Banda Aceh berharap edukasi kebencanaan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan.
Pengetahuan tentang mitigasi, penyelamatan diri, dan evakuasi diharapkan tidak hanya dipahami oleh siswa, tetapi juga diterapkan dan disebarluaskan kepada keluarga serta lingkungan sekitarnya.
Dengan memperkuat edukasi sejak dini, Kota Banda Aceh terus mendorong terbentuknya generasi yang tanggap, peduli, dan siap menghadapi risiko bencana. Upaya ini menjadi bagian penting dalam membangun kota yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana.
