BANDA ACEH – Dua dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh terpilih mengikuti Program Visiting Professor/Visiting Lecturer 2026 yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Keduanya adalah Prof Saiful Akmal yang akan menjalani program sebagai Visiting Professor di Albert Ludwig University of Freiburg, Jerman, dan Dr Muhammad Thalal yang akan menjadi Visiting Lecturer di The University of Melbourne, Australia.
Penetapan keduanya tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6392 Tahun 2026 tentang Penetapan Penerima Program Visiting Professor/Visiting Lecturer Tahun 2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 3 Agustus 2026.
Program tersebut menjadi kesempatan bagi kedua dosen untuk mengembangkan riset sekaligus memperluas jejaring akademik dan kerja sama kelembagaan dengan perguruan tinggi di luar negeri.
Muhammad Thalal merupakan dosen Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Selama menjalani program di University of Melbourne, Thalal berada di bawah supervisi Professor Kate McGregor dari School of Historical and Philosophical Studies. Ia juga akan bergabung dengan History, Memory and Decolonial Futures Research Collective.
Thalal akan mengembangkan riset berjudul Split Postmemory: Transmisi Memori Antargenerasi dalam Masyarakat Aceh Pascakonflik.
Riset itu mengkaji bagaimana generasi muda Aceh mewarisi ingatan mengenai konflik bersenjata 1976-2005 melalui keluarga. Penelitian juga melihat bagaimana memori konflik berinteraksi dengan narasi resmi yang berkembang di masyarakat Aceh setelah konflik berakhir.
Selain penelitian, Thalal akan mengikuti sejumlah kegiatan akademik yang mencakup pengajaran, publikasi, kerja sama, jejaring akademik, dan diseminasi.
Dalam kegiatan pengajaran, ia akan berkontribusi pada kelas Prof. Kate McGregor mengenai kekerasan 1965. Ia juga menjadi guest contributor dalam dua sesi kelas Dr. Beech Jones yang membahas sejarah gender, Darul Islam, dan perlawanan terhadap patriarki.
Untuk publikasi, Thalal menargetkan finalisasi manuskrip Split Postmemory untuk diajukan ke jurnal Memory Studies yang diterbitkan SAGE dan terindeks Scopus Q1. Ia juga akan menjajaki peluang publikasi bersama Prof. McGregor.
Sementara dari sisi kelembagaan, Thalal akan menjajaki penyusunan draf awal Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Ar-Raniry dan University of Melbourne.
Ia juga akan bergabung dalam History, Memory and Decolonial Futures Collective serta memperluas jejaring dengan peneliti Indonesia dan akademisi yang mengembangkan kajian memori di Melbourne.
“Program ini bukan sekadar kesempatan akademik, tetapi juga tanggung jawab untuk membawa nama UIN Ar-Raniry dan Aceh ke jejaring akademik internasional,” kata Thalal.
Menurutnya, pengalaman Aceh dalam mengelola memori pascakonflik dapat memberikan kontribusi terhadap kajian global mengenai perdamaian dan memori.
“Saya berharap program ini tidak berhenti pada kunjungan individu, tetapi membuka jalan bagi kerja sama kelembagaan yang berkelanjutan antara UIN Ar-Raniry dan University of Melbourne, termasuk penjajakan nota kesepahaman yang memberi manfaat jangka panjang bagi dosen dan mahasiswa,” ujarnya.
