BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus memperkuat integrasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman melalui pengembangan pembelajaran sains berbasis Al-Qur’an di sekolah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Penajaman Pembelajaran Sains Berbasis Al-Qur’an yang digelar di Opproom Dinas Pendidikan Aceh, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi visi dan misi Gubernur Aceh dalam mewujudkan Aceh Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan. FGD diikuti para guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari sejumlah SMA dan SMK di Kota Banda Aceh untuk menyusun sekaligus menyempurnakan bahan ajar yang mengintegrasikan konsep sains modern dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, yang membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis Al-Qur’an diharapkan mampu memperkaya pemahaman peserta didik terhadap ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat nilai keimanan.
“Banyak fenomena ilmiah yang dapat dikaji dan dikembangkan melalui pendekatan Al-Qur’an sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah,” ujarnya.
Menurut Murthalamuddin, Aceh memiliki modal besar untuk menjadi daerah percontohan dalam pengembangan pembelajaran sains berbasis Al-Qur’an. Sejarah panjang peradaban Islam, tradisi keilmuan yang kuat, serta budaya religius masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun model pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.
Ia berharap hasil diskusi tersebut mampu melahirkan konsep pembelajaran yang aplikatif dan dapat diterapkan secara efektif di lingkungan sekolah.
“Melalui forum ini diharapkan lahir konsep dan bahan ajar sains yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Al-Qur’an sehingga dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah,” harap Murthalamuddin.
FGD tersebut dikoordinasikan oleh Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Saminan Ismail, M.Pd., bersama Kepala Bidang Pembinaan SMA dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Aceh, Syarwan Joni. Kegiatan juga melibatkan perwakilan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh, Pengawas SMA Samsul Bahri, serta guru-guru IPA dari SMA di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Dalam pemaparannya, Prof. Saminan menegaskan bahwa pengembangan sains berbasis Al-Qur’an bukan untuk menggantikan metode pembelajaran yang telah ada, melainkan memperkaya pendekatan pembelajaran agar lebih sistematis, terstruktur, dan memiliki landasan keilmuan yang kuat.
“Pendekatan ini sejalan dengan pengembangan sains Al-Qur’an sebagai konsep pendidikan keacehan yang memperkuat peran Aceh sebagai pelopor integrasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Al-Qur’an,” ujar Prof. Saminan.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para dosen dan guru yang terus berinovasi dalam mengembangkan metode pembelajaran di bidang keilmuan masing-masing. Menurutnya, kreativitas tersebut menjadi modal penting dalam membangun integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan kajian Al-Qur’an.
Prof. Saminan mengingatkan bahwa pengembangan pembelajaran sains berbasis Al-Qur’an harus dilakukan secara ilmiah, komprehensif, dan melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu agar menghasilkan konsep yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun keagamaan.
“Kajian pembelajaran sains berbasis Al-Qur’an harus dilakukan secara komprehensif, hati-hati dan melibatkan ahli yang memiliki kompetensi di bidang ilmu pengetahuan maupun ilmu keislaman,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga membagikan pengalaman saat menempuh pendidikan doktoral sebagai motivasi kepada para peserta. Menurutnya, keberhasilan dalam menguasai ilmu pengetahuan membutuhkan proses panjang, ketekunan, dan semangat belajar yang tidak pernah berhenti.
Lebih lanjut, Prof. Saminan mengajak seluruh peserta membangun pola pikir ilmiah melalui proses berpikir kritis, mengamati fenomena, serta melakukan penelitian dalam mengembangkan konsep sains berbasis Al-Qur’an.
“Secara filosofis, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk beriman terlebih dahulu sebelum mempelajari ajarannya, sedangkan ilmu pengetahuan berkembang melalui proses pengamatan, pembuktian, dan penelitian sebelum melahirkan suatu keyakinan,” ujar Prof. Saminan, Guru Besar FKIP USK yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh.
Ia berharap sinergi antara akademisi, guru, dan pemerintah dapat melahirkan paradigma pendidikan baru yang mengintegrasikan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan secara harmonis, sehingga mampu memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat di Aceh.
Melalui pengembangan pembelajaran sains berbasis Al-Qur’an, Pemerintah Aceh menargetkan lahirnya generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter religius, berpikir kritis, serta mampu menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan dalam kehidupan dan pengembangan ilmu.
