Ampon Bram Bertemu Puluhan Wartawan Bahas Isu Strategis Aceh dalam Suasana Penuh Keakraban

BANDA ACEH – Suasana Minggu pagi di kawasan Jalan Pocut Baren, Banda Aceh, menghadirkan pemandangan berbeda. Memasuki pukul 10.30 WIB, Taufik Kupi dipenuhi puluhan wartawan dari berbagai media yang berkumpul dalam sebuah pertemuan santai bersama anggota DPR RI asal Aceh, H. T. Ibrahim atau yang akrab disapa Ampon Bram.

Aroma kopi Aceh yang baru diseduh menyatu dengan canda, tawa, serta diskusi yang berlangsung hangat. Di kedai kopi itu, tidak tampak sekat jabatan maupun formalitas. Semua peserta duduk setara di depan secangkir kopi, membahas berbagai isu yang sedang menjadi perhatian publik.

Pertemuan tersebut berlangsung tanpa podium dan tanpa protokoler yang kaku. Percakapan mengalir secara alami, sesekali diselingi gelak tawa. Meski suasananya santai, pembahasan yang mengemuka tetap sarat substansi, mulai dari isu nasional hingga persoalan strategis di Aceh.

Ampon Bram menjawab setiap pertanyaan wartawan dengan gaya komunikasi yang lugas dan terbuka. Diskusi berkembang membahas sejumlah persoalan yang tengah menjadi sorotan publik.

Salah satu topik yang mendapat perhatian adalah perkembangan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menyeret nama mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, termasuk kabar mengenai kematian kepala rumah tangga yang dikaitkan dalam perkara tersebut.

Pembahasan kemudian bergeser ke persoalan daerah yang selama ini menjadi perhatian masyarakat Aceh, yakni status tanah wakaf Blang Padang. Menurut Ampon Bram, langkah penyelesaian melalui mekanisme isbat wakaf yang diinisiasi Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, merupakan jalur hukum yang dinilai dapat memberikan kepastian terhadap status aset yang telah lama menjadi perdebatan.

Isu pemberantasan narkoba juga menjadi pembahasan penting dalam pertemuan tersebut. Ampon Bram menegaskan perlunya penegakan hukum secara tegas terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam jaringan peredaran narkotika, termasuk apabila terdapat oknum aparat sebagaimana terungkap dalam sejumlah kasus di Bireuen maupun Jakarta.

Selain itu, revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) turut menjadi perhatian. Menurutnya, pembahasan revisi regulasi tersebut telah memasuki tahap akhir dan kini tinggal menunggu keputusan politik di tingkat nasional.

Anggota DPR RI fraksi Partai Demokrat, H.T. Ibrahim bersama Prithi Riski Dewi, Foto: Dok. Pribadi/opsipedia.id

Di balik pembahasan yang serius, suasana keakraban tetap terasa sepanjang pertemuan. Gelas-gelas kopi terus terisi, sementara senyum dan jabat tangan silih berganti. Tidak ada jarak antara narasumber, wartawan, maupun tamu yang hadir sehingga dialog berlangsung lebih terbuka dan akrab.

Nuansa kekeluargaan juga terlihat dari sambutan Taufik M. Ali selaku pemilik Taufik Kupi. Ia menyambut setiap tamu dengan keramahan yang telah menjadi ciri khas kedainya. Tidak sekadar menyediakan tempat menikmati kopi, Taufik Kupi juga menghadirkan ruang diskusi yang nyaman bagi berbagai kalangan.

Selama ini, Taufik Kupi dikenal sebagai salah satu ruang temu masyarakat di Banda Aceh. Wartawan, akademisi, politisi, pengusaha hingga masyarakat umum kerap memanfaatkan kedai tersebut sebagai tempat bertukar gagasan, berdiskusi, dan memperkuat silaturahmi.

Di tempat itu, secangkir kopi bukan hanya menjadi minuman pelengkap pertemuan, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan beragam pandangan. Budaya ngopi di Aceh kembali menunjukkan makna yang lebih luas sebagai ruang publik tempat lahirnya ide, penyampaian kritik, hingga pencarian solusi dalam suasana yang bersahabat.

Pertemuan bersama Ampon Bram menjadi gambaran bahwa kedai kopi di Aceh memiliki peran penting dalam membangun komunikasi antara masyarakat, media, dan para pemangku kebijakan. Keramahan yang tumbuh di dalamnya bukan sekadar pelayanan kepada pelanggan, melainkan budaya yang menghidupkan percakapan, mempererat silaturahmi, dan menjaga tradisi Aceh bahwa setiap persoalan dapat dibahas dengan kepala dingin ditemani secangkir kopi hangat.

Kebersamaan itu ditutup dengan makan siang bersama menikmati Gulai Eungkot Paya, salah satu kuliner khas Aceh, yang semakin menguatkan nuansa kekeluargaan dalam pertemuan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *