BANDA ACEH – Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) dr. Muhazar Harun, SKM., M.Kes., menegaskan komitmen rumah sakit untuk memastikan peningkatan jumlah pasien hemodialisis atau cuci darah tidak mengurangi mutu dan keselamatan pelayanan.
Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah pasien hemodialisis di RSUDZA mengalami peningkatan sekitar 10–15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian serius manajemen karena berdampak langsung terhadap kepadatan layanan, kebutuhan tenaga kesehatan, ketersediaan mesin, serta logistik medis.
“Peningkatan pasien hemodialisis menunjukkan kebutuhan terhadap layanan ini terus bertambah. Kondisi tersebut harus kita respons dengan pengelolaan kapasitas yang lebih efektif dan efisien, sehingga seluruh pasien tetap mendapatkan pelayanan optimal,” ujar Muhazar, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, peningkatan pasien terutama berkaitan dengan bertambahnya kasus Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Hipertensi, diabetes melitus, pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat, serta kurangnya aktivitas olahraga menjadi faktor risiko yang perlu mendapat perhatian masyarakat.
Dari sisi pelayanan, lonjakan jumlah pasien membuat unit hemodialisis RSUDZA bekerja dengan tingkat kepadatan tinggi. Mesin hemodialisis hampir beroperasi penuh setiap hari, sehingga pengaturan jadwal dan shift pelayanan harus dilakukan secara ketat.
“Kami terus mengevaluasi pemanfaatan layanan. Penambahan jadwal dan fasilitas dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi pertambahan pasien, dengan tetap menjaga kenyamanan dan keselamatan pasien,” katanya.
Untuk mengurai kepadatan, RSUDZA memperkuat koordinasi dengan rumah sakit jejaring, antara lain RSUD Meuraxa, RS Hermina, dan RS Putri Bidadari.
Di sisi sumber daya manusia, dokter spesialis ginjal, konsultan ginjal hipertensi, perawat mahir hemodialisis, dan tenaga penunjang medis terus bekerja menghadapi peningkatan beban pelayanan. Namun, penguatan rasio perawat tersertifikasi serta pengelolaan Bahan Habis Medis Pakai (BMHP) menjadi bagian penting yang harus terus dijaga.
“Penambahan mesin hemodialisis dan penguatan kapasitas SDM menjadi opsi prioritas yang sedang kami jalankan. Yang paling penting adalah bagaimana pertumbuhan kebutuhan pelayanan dapat diimbangi dengan kesiapan kapasitas rumah sakit,” tegasnya.
Muhazar menambahkan, peningkatan kapasitas tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan standar pelayanan. Karena itu, manajemen terus memperkuat tata kelola klinis, optimalisasi manajemen logistik, perawatan preventif mesin secara berkala, serta penataan sistem antrean yang transparan.
“Komitmen kami jelas: peningkatan beban layanan tidak boleh menurunkan mutu pelayanan. Keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama RSUDZA,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan pelayanan hemodialisis ke depan bukan hanya menyediakan lebih banyak mesin, tetapi juga memastikan ketersediaan tenaga terlatih, logistik medis, sistem rujukan, dan tata kelola pelayanan yang mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin memastikan meskipun jumlah pasien terus meningkat, standar mutu pelayanan RSUDZA sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh tetap terjaga,” pungkasnya. []
