Tokoh Papua Kecam Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo Serukan Perlindungan Masyarakat dan Penegakan Hukum

Timika – Ketua Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP-RI) Kabupaten Mimika, Panius Kogoya, mengecam keras pembunuhan terhadap tiga warga sipil di Kabupaten Yahukimo. Ia menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan mendesak agar warga sipil mendapat perlindungan serta pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku.

Pernyataan itu disampaikan Panius Kogoya dalam keterangannya pada Sabtu (25/7), menyusul peristiwa penembakan yang menewaskan tiga warga sipil di Yahukimo pada 20 Juli 2026. Menurutnya, aksi kekerasan terhadap masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.

“Saya Panius Kogoya selaku Ketua Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP-RI) Kabupaten Timika menyampaikan masalah yang terjadi di Yahukimo pada tanggal 20 Juli 2026, saya selaku Ketua BMP-RI sangat kecewa atas penembakan warga sipil yang tidak bersalah dan tidak punya dosa,” ujarnya.

Panius mengaku peristiwa tersebut menjadi pukulan berat, terlebih salah satu korban masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Ia menegaskan bahwa pembunuhan terhadap warga sipil hanya akan memperdalam luka masyarakat Papua yang selama ini mendambakan kehidupan yang aman dan damai.

“Manusia perlu hidup yang sama, tapi jika melakukan tindakan-tindakan kekerasan dengan alasan yang tidak jelas, saya selaku Ketua BMP-RI menyampaikan bahwa korban yang dibunuh itu adalah saudara saya, satu marga dengan saya, dan saya merasakan yang sangat amat kecewa atas kejadian tersebut. Hal yang dilakukan tersebut tidak benar, ditangkap dan dibunuh dengan cara ditembak itu adalah perbuatan yang keji,” katanya.

Ia menilai tragedi tersebut bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga mencederai nilai kemanusiaan dan rasa persaudaraan di Tanah Papua. Karena itu, Panius mengajak seluruh pihak untuk menghentikan segala bentuk aksi kekerasan yang justru merugikan masyarakat Papua sendiri.

Dalam kesempatan itu, Panius juga menyatakan dukungan terhadap langkah aparat keamanan untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan membawa para pelaku ke proses hukum.

“Saya minta kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah dengan tugas keamanan TNI-Polri sangat mendukung untuk dilakukan pengejaran terhadap pelaku penembakan,” ujarnya.

Selain mendorong penegakan hukum, ia menyampaikan apresiasi kepada personel TNI dan Polri yang telah membantu proses evakuasi jenazah korban sehingga keluarga dapat memperoleh kepastian mengenai kondisi anggota keluarganya.

“Saya pun berterima kasih kepada pihak TNI-Polri sudah selamatkan jasad keluarga saya yang ditembak. Kami keluarga besar menyampaikan kekecewaan terhadap pelaku yang sama-sama orang Papua membunuh orang Papua. Ini adalah hal yang tidak benar dan sangat tidak baik. Agama melarang membunuh orang sembarangan,” katanya.

Panius juga berharap pemerintah memperkuat kehadiran aparat keamanan di wilayah-wilayah yang masih dianggap rawan agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa khawatir.

“Di Yahukimo juga saya sarankan agar ditetapkan pos keamanan dari TNI-Polri agar masyarakat merasa aman untuk mencari makan dan pekerjaan dengan selamat,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan penghargaan kepada aparat keamanan, khususnya Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, yang terus menjalankan tugas pengamanan dan pelayanan di berbagai wilayah Papua.

“Saya juga berterima kasih kepada pihak Satgas Damai Cartenz di mana pun bertugas dan memberikan pelayanan. Tuhan dan alam Papua selalu melindungi setiap langkah pengabdian mereka,” ujar Panius.

Ia berharap situasi keamanan di Papua segera kembali kondusif sehingga masyarakat dapat beraktivitas, bekerja, dan mencari nafkah dengan aman. Panius juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan, mengedepankan perdamaian, serta menolak segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *