BANDA ACEH — Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh menggelar rapat darurat di Kantor Gubernur Aceh pada Minggu (16/8/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini difokuskan untuk merespons dinamika kerusuhan yang diwarnai aksi penurunan Bendera Merah Putih serta penaikan Bendera Bintang Bulan pada momen peringatan Hari Damai Aceh sehari sebelumnya.
Rapat penting ini dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fadh setelah menerima instruksi khusus dari Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haytar dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
“Arahannya terutama segera melaksanakan rapat Forkopimda dan mencari akar masalah dan solusi terhadap peristiwa menonjol yaitu kerusahan yang terjadi di Aceh,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi.
Insiden yang menjadi perhatian utama tersebut meletus di dua lokasi strategis pada Sabtu (15/8/2026). Di kompleks Masjid Raya Baiturrahman, massa menurunkan Bendera Merah Putih dan mengibarkan Bendera Bintang Bulan.
Sementara itu di Pendopo Gubernur Aceh yang berdekatan, aksi serupa diwarnai perusakan Lambang Negara Burung Garuda beserta pengibaran Bendera Bintang Bulan.
Diskusi intensif yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut menghasilkan sejumlah poin rekomendasi penting demi menjaga stabilitas dan keamanan daerah.
“Semua pihak diminta menahan diri mencegah aksi serupa dan mengutamakan pendekatan persuasive,” kata Nurlis. “Menguatkan komunikasi dengan ulama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan eksponen masyarakat.”
Juru bicara Pemerintah Aceh tersebut menegaskan pentingnya meluruskan informasi di tengah publik agar suasana tidak makin keruh pasca-insiden.
“Juga menegaskan bahwa perdamaian Aceh adalah fondasi bersama dalam membangun Aceh yang lebih baik kedepan,” kata Nurlis.
Terkait polemik keabsahan bendera daerah, Pemerintah Aceh bersama Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sepakat untuk segera berkoordinasi dan berkonsultasi langsung dengan Kementerian Dalam Negeri guna memperoleh kepastian hukum.
Wakil Gubernur Aceh Dek Fadh mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk saling menjaga ketertiban umum dan tidak terprovokasi oleh aksi-aksi yang dapat merusak suasana damai di Tanah Rencong.
“Berbagai persoalan yang menjadi pemicu kerusuhan kemarin sudah kami bahas, dan kami carikan solusinya yang terbaik untuk rakyat Aceh,” kata Wagub Dek Fadh di Banda Aceh, Minggu (16 Agustus 2026).
